Nasehat Tersayang kepada Anak-anak Ummat Islam dan para Pembawa “Ad-Da’wah As-Salafiyyah”

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه أما بعد
Sesungguhnya kita ummat Islam, Allah Tabaaraka wa Ta`aala betul-betul telah membedakan kita dari ummat-ummat yang lain, dikarenakan kita menegakkan `amru bil ma`ruuf wan nahyi `anil munkar

Allah Ta`aala telah berkata :
((كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر)). آل عمران (110).
Artinya : “Kalian adalah merupakan ummat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma`ruuf dan mencegah dari kemunkaran.” (QS. Aali `Imran : 110).

Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

من رأى منكم منكرا فلغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان”.
Artinya : “Barang siapa diantara kalian melihat kemunkaran hendaklah dia robah dengan tangannya, kalau dia tidak sanggup hendaklah dia robah dengan lisannya, kalau tidak sanggup juga hendaklah dia ingkari dengan hatinya yang demikian itu merupakan selemah lemah iman.” [1]

Dan Rabb kita telah mewajibkan atas kita untuk menegakkan ke`adilan, Allah Ta`aalaa berkata:

((ياأيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين)). النساء (135).
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak ke`adilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (QS. An Nisaa : 135).
Dia telah memerintahkan kita untuk saling ta`aawun (tolong-menolong) di atas kebajikan dan taqwa dan melarang kita dari ta`aawun di atas dosa dan permusuhan, Allah Ta`aalaa berkata:
((وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان واتقوا الله إن الله شديد العقاب)). المائدة (2).
Artinya : “Dan tolong-menolonglah kalian dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al Maaidah : 2).

Dan Allah Ta`aalaa juga memerintahkan untuk berjihad dalam rangka menyebarkan Din (Agama) dan pembelaan terhadap Din tersebut; jihad dengan pedang dan lisan, kemudian Dia memerintahkan juga untuk berjihad dengan bayaan, hujjah dan burhaan, dan ini merupakan jihad seluruh anbiyaa (para Nabi) `Alaihimus Sholaatu was Sallaam.
Dia memerintahkan kita juga untuk selalu jujur dan berusaha untuk jujur, dan melarang kita dari dusta dan berusaha untuk meninggalkannya, Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah berkata :
عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة ولا يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا، وإياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار ولا يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا.”
Artinya:“Diwajibkan atas kalian untuk jujur sesungguhnya kejujuran itu membimbing dia kepada kebajikan dan kebajikan akan membimbing dia kedalam jannah, dan senantiasa seorang lelaki berlaku jujur dan berusaha untuk tetap jujur sehingga ditulis dia disisi Allah sebagai “shiddiiq”, dan jauhi oleh kalian dusta sesungguhnya kedustaan itu membimbing seseorang kepada dosa dan dosa akan membimbing dia keneraka, dan selalu seorang lelaki itu berdusta dan berusaha untuk dusta sampai ditulis disisi Allah “kadzzaab” (banyak dustanya).” [2]
Allah Subhaana wa Ta`aalaa telah memperingatkan kita dari perkiraan-perkiraan yang dusta, berkata Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam :
“إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث.”
Artinya : “Jauhilah oleh kalian az zhon (sangka sangkaan) sesungguhnya az zhon itu sedusta-dusta pembicaraan.” [3]
Dan Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa telah memerintahkan kita untuk bersaudara bahkan memotivasi membangun persaudaraan itu, telah berkata Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam :
المسلم أخو المسلم لا يخونه ولا يخذله، كل المسلم على المسلم حرام عرضه وماله ودمه، التقوى ها هنا بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم.”
Artinya : “Seorang muslim saudara bagi muslim lainnya jangan sampai mengkhianatinya dan meninggalkannya daripada menolongnya, setiap muslim diharamkan atas muslim lainnya harga dirinya, harta bendanya dan darahnya, at Taqwaa disini-beliau menunjuk kedadanya `Alaihis Sholaati wa Sallaam, cukup bagi seseorang melakukan bentuk satu kejelekan dimana dia mencela saudaranya yang muslim.” [4]Dihadist lain juga Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam mengatakan :
لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا بيع بعضكم على بعض وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله: التقوى هاهنا ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه.”
Artinya : “Jangan sekali-kali kalian saling hasad-menghasad dan jangan saling benci-membenci dan jangan saling belakang-membelakangi dan jangan sebahagian kalian menjual atas jualan sebahagian lainnya, jadilah kalian hamba-hamba Allah Ta`aala yang bersaudara, seorang muslim saudara muslim lainnya, jangan sekali-kali dia menzholiminya dan jangan pula meninggalkan untuk tidak menolongnya, at taqwa disini sambil Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam memberikan isyarat kedada beliau tiga kali, cukuplah seseorang itu melakukan satu kejelekan dimana dia mencela saudaranya yang muslim, setiap muslim diharamkan atas muslim lainnya darahnya, hartanya dan harga dirinya.” [5]
Allah Ta`aala juga memerintahkan kita untuk saling sehat-menasehati, telah berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam :
الدين النصيحة فقلنا لمن يا رسول الله؟ قال: لله ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم”
Artinya : “ad Din (Agama) itu adalah sehat menasehati, berkata para shahabat bagi siapa ya Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam? Beliau menjawab : bagi Allah dan KitabNya dan RasulNya dan kepada pimpinan kaum muslimiin serta orang orang `awam mereka.” [6]
Allah Jalla wa `Alaa memerintahkan kepada kita untuk menolong orang yang dizholimi dan berbuat zholim, berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam :
انصر أخاك ظالما أو مظلوما، فقال رجل : يا رسول الله صلى الله عليه وسلم، أنصره إذا كان مظلوما، أفرأيت إذا كان ظالما كيف أنصره؟ قال تحجزه، أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره.”
Artinya : “Tolonglah saudaramu yang dizholimi dan yang berbuat zholim, berkata seorang lelaki : ya Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam, saya akan menolongnya apabila dia dizholimi, bagaimana pandanganmu apabila dia yang berbuat zholim bagaimana saya menolongnya? Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam menjawab : kamu larang dia atau kamu cegah dia dari perbuatan zholim tersebut, sesungguhnya itulah bentuk pertolongan baginya.” [7]
Dan Allah Ta`aala mengkhabarkan pada kita bahwa kezholiman itu adalah kegelapan yang sangat gelap dihari qiyamat, berkata Allah Tabaaraka wa Ta`aala :
((إن الله لا يظلم مثقال ذرة وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه أجرا عظيما)). النساء (40).
Artinya : “Sesungguhnya Allah Ta`aala tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisiNya ganjaran yang besar.” (QS. An Nisaa : 40).
Dan Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam juga berkata dalam satu hadist qudsiy :
يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا.”
Artinya : Allah Subhaana wa Ta`aala berkata : “Hai hamba-hamba Saya sesungguhnya Saya telah mengharamkan perbuatan zholim atas Diri Saya, dan Saya menjadikan juga perbuatan demikian diharamkan sesama kalian, maka janganlah kalian saling zholim-menzholimi.” [8]
Allah `Azza wa Jalla telah mengharamkan al ghuluw (melampaui batas) dalam Din (Agama) ini, berkata Allah Ta`aala :
((ياأهل الكتاب لا تغلوا في دينكم ولا تقولوا على الله إلا الحق)). النساء (171).
Artinya : “Wahai ahli kitab, janganlah kalian melampai batas dalam din kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (An Nisaa : 171).

Dan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam juga mengatakan :

إياكم والغلو فإنه أهلك من كان قبلكم غلوهم في دينهم.”
Artinya : “Hati-hatilah kalian dari perbuatan ghuluw, sesungguhnya telah binasa orang orang sebelum kalian dikarenakan ghuluwnya mereka dalam agama mereka.” [9]Berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam :
لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم….”
Artinya : “Jangan sekali-kali kalian melampaui batas dalam memuji saya sebagaimana orang orang nashraniy melampaui batas terhadap Ibnu Maryam….” [10]
Dan Allah Tabaaraka wa Ta`aala telah mengharamkan “at Ta`asshub” (fanatik), berkata Rasuulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam-:
“…. ومن قتل تحت راية عمية يدعوا لعصبية أو ينصر عصبية، فقتلته جاهلية.”
Artinya : “…..dan barang siapa yang dibunuh di bawah bendera kesombongan yang menyeru kepada kefanatikan atau dalam rangka menolong qaum atau sukunya maka matinya adalah mati jahiliyyah.” [11]
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta`aala di Majmuu`ul Fataawa (28/16) :
“Tidak dibenarkan bagi para da`ii untuk menjadikan manusia sebagai golongannya dan melakukan hal hal yang akan menimbulkan permusuhan dan kebencian sesama mereka, bahkan hendak mereka itu bersaudara yang saling tolong-menolong di atas kebajikan dan taqwa sebagaimana Allah Tabaaraka wa Ta`aala berkata:
((وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان واتقوا الله إن الله شديد العقاب)). المائدة : (2).
Artinya : “Tolong-menolonglah kalian dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.” (Al Maaidah : 2).
Dan tidak dibenarkan seorangpun dari kalangan mereka untuk mengambil perjanjian atas seorang lainnya guna mencocoki segala sesuatu yang dia ingini, mencintai orang yang dia cintai, memusuhi orang yang dia musuhi, bahkan seseorang yang melakukan ini sama perbuatannya dengan Jengiskhaan dan semisalnya, dimana mereka menjadikan setiap orang yang menyetujuinya sebagai teman yang dicintai sedangkan orang yang menyelisihinya sebagai musuh yang zholim. Bahkan diwajibkan atas mereka dan para pengikutnya untuk berpegang dengan janji Allah `Azza wa Jalla dan RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam dengan mentho`ati Allah Jalla wa `Alaa dan RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam, hendaklah mereka mengerjakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan RasulNya, dan mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam, dan memperhatikan haq-haq kaum muslimiin sebagaimana yang telah Allah dan RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam perintahkan, kalau seandainya salah seorang ustadz dizholimi hendak dia tolong, kalau seandainya dia berbuat zholim jangan dia tolong dalam melakukan kezholiman tersebut bahkan hendaklah dia larang dari kezholiman itu, sebagaimana dijelaskan dalam hadist yang shohih dari an Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :
انصر أخاك ظالما أو مظلوما”، قيل : يا رسول الله ! أنصره مظلوما فكيف أنصره ظالما؟ قال : “تمنعه من الظلم فذلك نصرك إياه.”
Artinya : “Tolonglah saudaramu yang dizholimi!”, dikatakan : ya Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam saya akan menolongnya kalau dia dizholimi bagaimana menolongnya kalau dia melakukan kezholiman?, berkata Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam : “Cegahlah dia dari kezholiman itu, maka itu bentuk pertolongan kamu padanya.” [7]
Permasalahan-permasalahan ini dan kelebihan yang mulia serta dasar-dasar yang kokoh, diwajibkan atas ummat ini (ummat Islam) untuk menegakkannya dan menjaganya dengan sebenar-benar penjagaan baik secara person, masyarakat, bangsa dan para pemimpin, lebih dikhususkan lagi adalah para `ulama dan penuntut `ilmu, dan sangat lebih dikhususkan lagi ialah kepada orang orang yang menisbahkan diri mereka kepada as Sunnah dan al Jamaa`ah.
Sesungguhnya pada penyelisihannya atau menyelisihi salah satu darinya akan terdapat kerusakan yang sangat besar di dunia dan Din ini yang akan menggiring kepada penghapusan tanda-tanda yang besar ini, dan sudah tentu padanya akan terdapat kejelekan dan kerusakan yang sangat berbahaya dan besar.
Diantara apa-apa yang tidak ragu padanya seorang yang ber`akal bahwasanya sungguh-sungguh telah terjadi melampaui batas yang sangat besar, kezholiman yang sangat jelek bagi setiap yang mengatakan perkataan al haq, ditolak apa apa yang ada bersamanya kebenaran dalam bentuk pelecehan dan penghinaannya, dan ini merupakan sesuatu kemunkaran yang sangat dibenci kalau seandainya muncul dari seorang yang kafir, bagaimana kalau muncul dari seorang muslim?
Maka diwajibkan atas ummat ini, lebih khusus lagi para pemudanya, yang mana mereka merupakan tonggak-tonggak ummat itu, hendaklah mereka memuliakan kebenaran dan meng-agungkannya, hendaklah mereka merendahkan kebathilan dan memerangi para pengikutnya bagaimana pun bentuk dan keadaan mereka tersebut, maka dengan demikian Allah Tabaaraka wa Ta`aala akan memuliakan mereka dan menghormati mereka dan akan meninggikan kedudukan mereka, sebaliknya, kalau mereka sudah mulai melecehkan kebenaran dan tidak menghormati kebenaran lagi sudah tentu Allah akan menimpakan atas mereka cobaan, kesesatan, fitnah-fitnah dan kemurkaan dariNya dan `uquubaat (bala`) di dunia dan akhirat, diantara bentuk cobaan-cobaan ini adalah penguasaan musuh-musuh mereka atas mereka sampai mereka betul-betul kembali kepada Din mereka yang benar, dan melazimkan diri mereka di atas kebenaran itu dengan sebenarnya, semoga Allah `Azza wa Jalla memberikan taufiiq kepada kita seluruhnya terhadap apa-apa yang Allah ridhoi.

 

Nasehat ini ditulis oleh hamba Allah yang sangat mengharapkan ma`af dan ampunanNya.

Rabee` bin Haadiy `Umeir al Madkhaliy
16 shofar 1422 H.
Diterjemahkan oleh : Abul Mundzir-Dzul Akmal as Salafiy Lc.
20 Rabii`ul akhir 1428H/8 Mai 2007 M, hari Selasa.
————————————————

[1] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam Muslim (1/69 no.49), dari jalan Abu Sa`iid al Khudriy radhiallahu `anhu.

[2] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Bukhaariy (7/124 no.6094), Muslim (4/2012-2013 no.102-105), Abu Daawud (5/264 no.4989), at Tirmidziy (4/306 no.1971), Ibnu Maajah (1/18 no.46), ad Daarimiy (2/299-300), Ahmad di “musnad” (1/3,5,7,8). Dari jalan Ibnu Mas`uud radhiallahu `anhu.

[3] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Bukhaariy (3/256-257 no.2749, Muslim (4/1985 no.2563), at Tirmidziy (4/313 no.1988)-berkata Abu `Iisaa (at Tirmidziy) : “Hadist ini hasan shohih.” Kata beliau : saya telah mendengar `Abda bin Humeid menyebutkan dari sebahagian shahabat Sufyan berkata : berkata Sufyan : zhon (sangka sangkaan) itu ada dua : zhon yang berdosa dan zhon yang tidak berdosa; adapun zhon yang berdosa yaitu seseorang yang berprasangka satu sangkaan kemudian dia berbicara dengannya, adapun zhon yang tidak berdosa adalah seseorang yang berprasangka satu sangkaan dan dia tidak berbica tentangnya.”, al Imam Maalik di “al Muwattho” (2/79 no.1895), cetakan kedua 1413H/1993-Muassasatur Risaalah- “riwayat Abi Mush`ab az Zuhriy al Madaniy 150-242H, Al Imam Ahmad di “musnadnya” (2/245 no. 7292, hal.287 no.7798), Maktabah al Baazz cetakan kedua 1414H/1993M, dari jalan Abu Hurairah radhiallahu `anhu.

[4] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam Muslim (4/1986 no.2564), Abu Daawud (5/195-196 no.4883), at Tirmidziy (4/286 no.1927), al Imam Ahmad di “musnad” (2/277) keseluruhannya dari jalan Abi Hurairah radhiallahu `anhu.

[5] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Muslim (4/1985 no.2563), Ahmad di “al Musnad” (2/277).

[6] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam al Bukhaariy (1/25 bab 43), Muslim (1/74 no.55), Abu Daawud (5/233-234 no. 4944) , at Tirmidziy (4/286 no.1926), berkata Abu `Isa : Hadist ini hasan shohih.-an Nasaaiiy (7/176 no.4208-4211), Ahmad di “al Musnad” (1/351), ad Daarimiy di “sunannya” (2/311), pada bab ini para shahabat yang meriwatkan adalah : Tamiim ad Daariy, Abu Hurairah, Ibnu `Abbaas dan Ibnu `Umar radhiallahu `anhum.

[7] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam al Bukhaariy (3/138 no.2443,2444,6952), at Tirmidziy (4/453 no.2255-berkata Abu `Isa : hadist ini hasan shohih.-ad Daarimiy (2/311), Ahmad di “al Musnad” (3/99), pada bab ini shahabat shahabat yang meriwayatkan dari Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam adalah : Anas bin Maalik dan Jaabir bin `Abdillah radhiallahu `anhuma.

[8] Hadist ini diriwayatkan oleh : al Imam Muslim (4/1994 no.2577) dari jalan Abu Dzarr, dari Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam pada apa apa yang telah beliau riwayatkan dari Tabaaraka wa Ta`aala bahwa Dia Tabaaraka wa Ta`aala berkata : al hadist.

[9] Hadist ini diriwayatkan oleh : an Nasaaii (5/296 no.3057), Ibnu Maajah (2/1008 no.3029), Ahmad di “al Musnad” (1/215), kesemuanya dari jalan Ibnu `Abbaas radhiallahu `anhuma.

[10] Hadist ini diriwayatkan oleh : al Bukhaariy (3/496 no.3445), Ahmad di “al Musnad” (1/23,24,47,55), ad Daarimiy (2/320) kesemuanya dari jalan `Umar bin al Khatthaab radhiallahu `anhu.

 

[11] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam Muslim (3/1476 no.1848), an Nasaaiiy (7/139-140 no.4125 dan 4126), Ibnu Maajah (2/1302 no.3948), Ahmad (2/296,306,488) dari jalan Abu Hurairah dan Jundub ibnu `Abdillah radhiallahu `anhuma.

Sumber : Buletin Jum’at Ta’zhim As-Sunnah Edisi VI Sya’ban 1428 H

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: