31 Pelajaran Dari Hadits ‘Janganlah Kamu Marah’

Oleh : Al Ustadz Abu Muawiyah Hammad

Dari Abu Hurairah –radhiallahu anhu- dia berkata: Ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi –shallallahu alaihi wasallam-, “Berikanlah wasiat kepadaku,” maka beliau bersabda, “Janganlah kamu marah.” Lalu dia mengulangi permintaannya beberapa kali, akan tetapi beliau tetap saja menjawab, “Janganlah kamu marah.”

 

Takhrij:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 6116) Ahmad (2/362, 466) (3/484) (5/34, 372, 373), Malik (2/905), Al-Baihaqi (10/105), Abu Ya’la (3/166) (10/51), Ibnu Hibban (12/501), Al-Hakim (3/713), Ath-Thabarani (2/261, 262, 263), Abdurrazzaq (11/187) dan Ibnu Abi Syaibah (5/216) dari jalan Abu Hushain Utsman bin Ashim dari Abu Saleh Dzakwan As-Samman dari Abu Hurairah.

 

Beberapa faidah yang terpetik dari hadits di atas:

1.    Larangan marah adalah mencakup larangan untuk menjauhi semua sebab dan perkara yang bisa mengantarkan untuk marah. Karena telah maklum dalam syariat bahwa semua larangan Allah dan Rasul-Nya dari suatu perbuatan adalah larangan dari perbuatan tersebut dan semua wasilah (pengantar) kepadanya.

2.    Dari penjelasan point 1 di atas, dipetik adanya perintah untuk menempuh sebab dalam tawakkal. Karena untuk tidak marah maka seseorang harus menempuh sebab-sebab yang bisa menjauhkan dia dari marah.

3.    Dalam hadits ini terdapat bantahan kepada Al-Jabariah, sekte yang berpemahaman bahwa manusia itu tidak mempunyai kehendak sama sekali dalam semua ucapan dan amalannya. Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- memerintahkan dia untuk tidak marah, menunjukkan bahwa perbuatan marah atau tidak marah itu atas kehendak dirinya sendiri.

4.    Hadits ini di antara dalil dari kaidah saddu adz-dzari’ah (menutup semua celah terjadinya kejelekan) dan bahwa mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Hal itu dikarenakan:

5.    Kebanyakan sifat marah hanya akan melahirkan kejelekan.

6.    Dalam hadits ini terdapat pentingnya seorang yang ditanya tentang agama untuk mengumpulkan antara ilmu dan hikmah, agar dia bisa memberikan jawaban kepada setiap penanya dengan jawaban yang paling sesuai dengan keadaan mereka, walaupun mungkin pertanyaan mereka sama.

7.    Di sini terdapat adab yang baik dari sahabat ketika bertanya dan menuntut ilmu.

8.    Tidak boleh menyembunyikan ilmu dari orang yang mencarinya, kecuali karena adanya suatu maslahat yang lebih besar. Jawaban Nabi –shallallahu alaihi wasallam- berkenaan dengan kekurangan (aib) penanya, akan tetapi tatkala dia bertanya maka beliau menjawabnya.

9.    Dalam hadits ini ada motifasi untuk mempunyai akhlak yang baik.

10.    Juga motifasi untuk senantiasa ridha kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.

11.    Hadits ini termasuk penjelas dari makna firman Allah Ta’ala tentang judi dan khamar, “Padanya ada dosa besar dan manfaat bagi manusia. Tapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Marah terkadang mempunyai manfaat, tapi tatkala kerusakannya lebih besar daripada manfaatnya maka syariat melarangnya.

12.    Di dalamnya terdapat semangat para sahabat dalam menuntut ilmu yang memperbaiki jiwa dan raga mereka.

13.    Marah itu terbagi menjadi dua: Ada yang terpuji dan ada yang tercela. Hal ini karena pada sebagian keadaan, Nabi –shallallahu alaihi wasallam- pernah marah, sementara beliau tidak akan mungkin melakukan sesuatu kecuali kebaikan.

14.    Dalamnya pemahaman sahabat, tatkala mereka tidak membenturkan antara sabda beliau ini dengan perbuatan marahnya Nabi –shallallahu alaihi wasallam- pada sebagian keadaan. Karenanya mereka juga marah ketika marah itu terpuji, dan mereka tidak marah ketika marah itu tercela.

15.    Wajibnya memberikan nasehat kepada kaum muslimin dan bahwa nasehat mempunyai peran penting dalam memperbaiki masyarakat.

16.    Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain, dan biasanya seseorang tidak mengetahui aib dan kesalahannya kecuali setelah diberitahu oleh saudaranya.

17.    Yang menjadi ukuran dalam baiknya ucapanya adalah besarnya faidah dan manfaatnya, bukan dari panjang dan indahnya suatu ucapan. Di sini beliau hanya menjawab dengan jawaban yang ringkas tapi mengandung manfaat yang besar.

18.    Hadits ini termasuk dari tanda kenabian beliau, yaitu jawami’ul kalim (mengucapkan kalimat yang ringkas tapi padat makna)

19.    Bolehnya mengulangi pertanyaan atau meminta kepada seorang alim untuk mengulangi jawabannya, selama dia belum jelas dan diminta dengan adab yang baik.

20.    Bahwa sifat marah atau sabar merupakan sifat muktasab (bisa diusahakan). Karenanya tidak ada orang yang tidak bisa sabar kecuali orang yang tidak sabar mengusahakan dirinya untuk bersabar.

21.    Nasehat itu hanya diminta dari orang yang berilmu, berakal lagi cerdik.

22.    Bolehnya minta wasiat kepada orang lain.

23.    Permintaan wasiat/nasehat kepada seseorang tidaklah menunjukkan kerendahan yang meminta nasehat. Justru itu menunjukkan ketinggian dan keutamaannya.

24.    Bolehnya mengulang-ulangi nasehat atau jawaban pertanyaan, selama tidak membuat pendengarnya bosan.

25.    Di dalamnya ada motifasi untuk bersabar, tidak tergesa-gesa serta banyak-banyak memaafkan.
26.    Seorang pengajar hendaknya bersabar dalam menghadapi orang yang bertanya, yang terkadang dia mengulangi pertanyaan yang sama.

27.    Menunjukkan tingginya tawadhu’ dan kesabaran Nabi –shallallahu alaihi wasallam-.

28.    Hamba juga akan mendapatkan pahala dari meninggalkan perbuatan yang jelek, selama dia meninggalkannya karena Allah.

29.    Di sini terdapat sikap kokoh dan bulatnya sikap seorang alim di atas kebenaran. Dia tidak merubah-rubah sikapnya ketika manusia memintanya atau ketika didesak oleh keadaan tertentu.

30.    Bolehnya menceritakan kekurangan orang lain selama di dalamnya ada pelajaran yang besar. Abu Hurairah menceritakan hadits ini karena adanya manfaat padahal di dalamnya terdapat kejelekan seseorang.

31.    Menjaga kehormatan kaum muslimin semaksimal mungkin. Walaupun Abu Hurairah menceritakan kisah ini karena adanya manfaat, beliau tetap tidak menyebutkan nama sahabatnya.

 

Demikian faidah yang bisa kami petik, orang yang menelaah hadits ini lebih dalam lagi pasti akan mendapatkan faidah tambahan dari apa yang telah kami sebutkan. Wallahu a’lam bishshawab.

SUMBER : http://al-atsariyyah.com/?p=434

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: